Minggu, 30 Oktober 2016

Museum Orangutan, Satu-satunya di Dunia Ada di Pontianak

Fate of Orangutan Like Slippers by Chandra/Orangutan Museum

Ruangan bekas garasi itu tampak biasa saja, berukuran kurang lebih 3x6 meter dengan dinding semen bertulang kayu. Ketika masuk ke dalam ruangan ini tak terkesan kita sedang berada di dalam sebuah museum. Di dinding dan lantainya tampak terpajang koleksi sekitar 19 karya visual 2 dimensi  berupa lukisan, fotografi dan digital desain  bertemakan orangutan.

Inilah Museum Orangutan, terletak di  Jalan R.E. Martadinata, No. 12, RT 004, RW 020. Kelurahan Sungai Jawi Luar sebelah barat  Kota Pontianak. Museum ini memang tak kelihatan layaknya sebuah museum, bangunannya yang sederhana menyatu dengan rumah yang menjadi kediaman pengelolanya.



Herfin Yulianto (45), pria yang juga pengusaha travel dan pegiat wisata budaya ini pertama kalinya menggagas ide pendirian Museum Orangutan lewat website travelnya www.tamasyapuriwisata.com berawal dari kepedulian dan keprihatinan melihat eksploitasi salah satu hewan endemik Kalbar pada sebuah pagelaran budaya. Tengkorak Pongo pygmaeus pygmaeus atau Orangutan Kalimantan ini digunakan sebagai asesoris pakaian di antara kepala-kepala tengkorak kera atau monyet asli, paruh enggang dan ratusan bulu ruai penghias ikat kepala yang juga mengalami nasib serupa. Pengalamannya di dunia wisata kemudian mengingatkannya akan keberadaan Museum Kucing di negeri tetangga yang kemudian menguatkan inspirasinya untuk menggagas berdirinya museum khusus orangutan.

Herfin kemudian mengawalinya dengan mempublish karya foto bidikan kameranya di media sosial sembari mengajak beberapa seniman koleganya untuk berpartisipasi mendonasikan karya-karya mereka untuk menjadi bagian dari koleksi Museum Orangutan.

Head Hunting of Orangutans by Herfin Yulianto/Orangutan Museum


Tak hanya lukisan dan fotografi, kini Orangutan Museum pun dilengkapi dengan koleksi beberapa buah buku tentang orangutan, tiga karya sastra puisi dan sebuah karya tiga dimensi berupa patung orangutan yang ketika artikel ini dipublish sedang dalam proses finishing.

Sebagai hewan endemik Kalbar yang ikonik, Herfin berharap ke depannya individu orangutan ini bisa menjadi pintu masuk di bidang wisata Kalbar yang mana keberadaan orangutan ini terancam punah akibat eksploitasi habitat tempat tinggal mereka. Mengutip wwf.or.id, beberapa ancaman utama yang dihadapi oleh orangutan ini adalah kehilangan habitat, pembalakan liar, kebakaran hutan, perburuan dan perdagangan orangutan untuk menjadi satwa peliharaan bahkan asesoris busana.

Dalam satu dekade terakhir, di tiap tahunnya, paling tidak terdapat 1,2 juta ha kawasan hutan di Indonesia telah digunakan untuk aktivitas-aktivitas penebangan berskala besar, pembalakan liar, serta konversi hutan untuk pertanian, perkebunan, pertambangan, dan pemukiman. Kebakaran hutan yang disebabkan oleh fenomena iklim seperti badai El Nino dan musim kering yang berkepanjangan juga mengakibatkan berkurangnya populasi orangutan. Selama 20 tahun terakhir, habitat orangutan Kalimantan berkurang paling tidak sekitar 55 %.


“Orangutan harus diselamatkan, dengan demikian keberadaannya yang lestari dapat menjadi pintu masuk wisata Kalbar”, seru Herfin dengan semangat. Meski masih sederhana, Museum Orangutan yang digagasnya adalah cikal bakal untuk museum yang lebih besar lagi, yang mampu menampung lebih banyak koleksi seni tentang orangutan dan menjadi baru satu-satunya Museum Orangutan di Dunia Ada di Pontianak.

Untuk itu, Herfin masih menerima hibah dari siapa pun dari seluruh dunia berupa karya seni tentang orangutan. Bahkan baru-baru ini, Museum Orangutan yang dikelolanya menerima hibah karya seni dari Belgia. Seorang bernama Frank Camille Guy mengiriminya karya sketsa. 

Museum Orangutan terbuka untuk dikunjungi setiap hari. Buka dari hari Senin sampai Minggu mulai pukul 13.00 wib hingga pukul 17.00, pengunjung dapat membuat janji berkunjung terlebih dahulu via telepon atau imel. "Hal ini supaya kami dapat memberikan pelayanan maksimal."jelas Herfin. Demi menunjang operasional museumnya, Herfin menerima sumbangan berupa tarif masuk seharga 50 ribu rupiah.

Seorang pengunjung tampak menikmati koleksi-koleksi karya seni Museum Orangutan/Herfin Yulianto


Museum Orangutan: 
d/a. Tamasya Puri Wisata Tour & Travel, 
Jalan R.E. Martadinata, No. 12, RT 004, RW 020. Kelurahan Sungai Jawi Luar. 
Kecamatan Pontianak Barat. Kalimantan Barat, Indonesia. 
Phone: (+62561) 777889. 
Handphone: (+62) 081256283499 – (+62) 0811576459, 
Email : orangutanmuseum@gmail.com.
Posting Komentar